• Permainan Kimia - Tulisan Ajaib : Tulisan yang dapat muncul dengan sendirinya jika disemprot, cek sekarang juga!
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.

Rabu, 18 Januari 2017

Laporan Hasil Observasi Organisasi Islam Persis

LAPORAN HASIL OBSERVASI ORGANISASI ISLAM PERSIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tauhid
Dosen : Dr. Moh Sulhan, M.Ag


 




PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
205/2016



BAB I 
                                                                        PENDAHULUAN
 
A.    Latar Belakang
Pada zaman modern ini terjadi banyak perubahan, tidak hanya dalam hal ekonomi dan sosial. Namun, dalam hal keagamaan pun terjadi perubahan yang mendukung dalam penyebaran keilmuannya. Dalam hal tersebut, keorganisasian menjadi langkah efektif yang dapat dilakukan. Salah satu organisasi yang mendukung penyebaran ilmu agama yaitu Persatuan Islam
Persatuan Islam sebagai organisasi besar di negeri ini tentu banyak faktor yang mempengaruhi tentang keberadaanya. Selanjutnya  Persatuan Islam sebagai organisasi pembaharu pasti ada maksud dan tujuan yang melandasinya. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang maksud,tujuan, sejarah perumusan serta pengertian yang terkandung didalamnya. Rumusan maksud dan tujuan Persatuan Islam sejak berdiri sampai sekarang yaitu dengan tujuan ingin memberantas takhayul, bid’ah dan kurafat di masyarakat luas.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah terbentuknya ormas Persatuan Islam?
2.      Apa tujuan dibentuknya ormas Persatuan Islam?
3.      Siapa saja tokoh-tokoh yang berada dalam ormas Persatuan Islam?
4.      Bagaimana karakteristik ormas Persatuan Islam?
5.      Bagaimana pandangan ormas Persatuan Islam  mengenai Penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan?
6.      Apa yang membedakan Persatuan Islam dengan ormas islam lainnya?
7.      Mazhab apa yang menjadi pedoman organisasi Persatuan Islam?
8.      Bagaimana pandangan Persatuan Islam terhadap kebangsaan?
9.      Bagaimana pandangan Persatuan Islam terhadap penyimpangan agama?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui sejarah terbentuknya ormas Persatuan Islam
2.      Untuk mengetahui tujuan dibentuknya ormas Persatuan Islam
3.      Untuk mengetahui -tokoh yang berada dalam ormas Persatuan Islam
4.      Untuk mengetahui karakteristik ormas Persatuan Islam
5.      Untuk mengetahui pandangan ormas Persatuan Islam  mengenai Penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan
6.      Untuk mengetahui apa yang membedakan Persatuan Islam dengan ormas islam lain
7.      Untuk mengetahui mazhab yang menjadi pedoman ormas Persatuan Islam
8.      Untuk mengetahui pandangan Persatuan Islam terhadap kebangsaan
9.      Untuk mengetahui pandangan Persatuan Islam terhadap penyimpangan agama


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Terbentuknya Ormas Persatuan Islam (Persis)

Persatuan Islam (Persis) berdiri pada abad ke-20 yaitu pada permulaan tahun 1920-an, tepatnya tanggal 12 September 1923 di Bandung. Adapun yang pertama mempunyai gagasan terbentuknya Persis ini adalah H. Zam-zam bersama temannya H. Muhammad Yunus. H. Zam-zam adalah seorang alumnus Darul-Ulum (Mekah) sejak tahun 1910-1912 beliau menjadi guru agama di Darul-Muta'alimin. Sedangkan H. Muhammad Yumus adalah seorang pedagang sukses, di masa mudanya beliau mendapatkan pendidikan agama secara tradisional dan menguasai Bahasa Arab sehingga beliau mampu mempelajari kitab-kitab secara autodidak.
H. Zam-zam dan H. Muhammad Yunus mempunyai latar belakang dan kultur yang sama. Hal inilah yang menyatukan mereka dalam mendalami keislaman. Mereka juga sering melakukan diskusi dengan tema sekitar gerakan keagamaan yang bergerak pada saat itu. Sering juga tema itu muncul dari permasalahan agama yang dimuat didalam majalah Al-Manar (terbitan Mesir). Salah satu tulisan yang sangat menyentuh emosi keagamaan mereka adalah tulisan Muhammad Abdul yang dimuat dalam majalah Al-Manar yaitu "Al-Islam Mahjubun bil Muslimin".Ungkapan ini sangat terkenal di kalangan pembaharuan Islam baik di Timur Tengah maupun di Indonesia. Tulisan (ungkapan) ini menghendaki agar umat Islam memiliki cara berpikir dan corak hidup yang lebih maju dengan lebih menghidupkan kembali Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam tata hidupnya.
Dalam setiap diskusi, H. Zamzam dan Muhammad Yunus, merupakan pembicara utama, keduanya banyak mengemukakan pikiran baru. Keduanya memang memiliki kapasitas dan wawasan pengetahuan yang cukup luas dalam masalah keagamaan, apalagi ditunjang oleh profesi H. Zam-zam sebagai guru agama. Di samping itu, mereka memang mempunyai latar belakang pendidikan agama yang cukup kuat di masa mudanya.
Suatu saat diskusi mereka berlangsung seusai acara kenduri di rumah salah seorang anggota keluarga yang berasal dari Sumatera yang telah lama tinggal di Bandung. Materi diskusi itu adalah mengenai perselisihan paham keagamaan antara al-Irsyâd dan Jami'at Khair. Sejak saat itu, pertemuan-pertemuan berikutnya menjelma menjadi kelompok penelaah, semacam studi club dalam bidang keagamaan di mana para anggota kelompok tersebut dengan penuh kecintaan menelaah, mengkaji, serta menguji ajaran-ajaran yang diterimanya. Diskusi mereka juga dilakukan dengan para jama'ah shalat Jum'ah, sehingga frekuensi bertambah dan pembahasannya makin mendalam. Jumlah mereka tidak banyak hanya sekitar 12 orang. Diskusi tersebut semakin intensif dan menjadi tidak terbatas dalam persoalan keagamaan saja terutama dikhotomis tradisional-modernis Islam yang terjadi ketika itu, yang diwakili oleh Jamî'at Khair dan al-Irsyâd di Batavia, tetapi juga menyentuh pada masalah-masalah komunisme yang menyusup ke dalam Syarikat Islam (SI), dan juga usaha-usaha orang Islam yang berusaha menghadapi pengaruh komunikasi tersebut.
Maka sejak saat itu, timbulah gagasan di kalangan mereka untuk mendirikan organisasi Persatuan Islam atau nama lain yang diajukan oleh kelompok ini yaitu Permupakatan Islam, untuk mengembalikan ummat Islam kepada pimpinan al-Qur'an dan al-Sunnah. Organisasi yang didirikan di Bandung ini untuk menampung kaum muda maupun kaum tua, yang memiliki perhatian pada masalah-masalah agama. Kegiatan utamanya adalah diskusi. Setiap anggota dapat mengajukan masalah keagamaan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Maka dapat disimpulkan bahwa lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, dan kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan cirri dan karateristik yang khas.
Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat 103 : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang (aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai”. Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.
A. Hassan dari Singapura pernah berkunjung ke Surabaya pada tahun 1920 dalam hubungan perdagangan batik keluarganya. Di sanalah ia mulai terlibat diskusi-diskusi agama dengan tokoh-tokoh agama di Indonesia sekitar pertentangan antara kaum muda dan kaum tua, antara paham modernis dan paham tradisional. Ayah A. Hassan memang termasuk orang yang berpandangan modernis. Maka dapat dimengerti jika A. Hassan juga sejalan dengan faham kaum muda. Tidak lama kemudian A. Hassan pindah ke Bandung dan masuk lingkungan Persatuan Islam. Selanjutnya ia memusatkan kegiatan hidupnya dalam pengembangan pemikiran Islam dan menyediakan dirinya sebagai pembela Islam.
Sampai awal tahun 1926, Persatuan Islam masih belum menampakan sebagai organisasi pembaharu, karena di dalamnya masih bergabung kaum muda dan kaum tua. Yang penting setiap anggota saling mendorong untuk lebih mendalami Islam secara umum sebagai agama yang dibawa nabi terakhir, Muhammad SAW. Namun dari segi penamaan, organisasi ini sejak awal memang sudah bersifat liberal. Betapa tidak, nama Persatuan Islam yang disingkat PERSIS adalah nama Latin, yang dianggap sebagai pengaruh penjajah Belanda. Apalagi sakralitas dan pengidentikan Islam dengan Arab sangat kuat di kalangan umat Islam ketika itu. Artinya mereka siap menerima risiko dan mempertahankan pendirian serta keyakinan yang mereka miliki, atas pemberian nama latin tersebut. Padahal organisasi yang lebih dulu muncul seperti Jamî'at Khair, Muhammadiyah, dan al-Irsyâd, menggunakan nama dan bahasa Arab.
Dari segi ini, Persatuan Islam menghendaki apa yang seharusnya disakralkan dan apa yang tidak seharusnya disakralkan oleh umat Islam. Karena penilaian terhadap sesuatu yang bersifat sakral itu berkaitan erat dengan kualitas ketauhidan dan bahkan pula berkaitan dengan wawasan keislaman yang dimiliki. Jika setiap berbahasa Arab identik dengan Islam, disitu wawasan keislaman yang dimiliki seseorang adalah tergolong awam. Hal itu terbukti kemudian Persatuan Islam menjelma menjadi organisasi yang paling ekstrim dan liberal dibandingkan dengan Muhammadiyah dan al-Irsyâd dalam melakukan penentangan terhadap tradisi-tradisi yang dianggap merupakan ajaran agama Islam, melalui konsep bid'ah, khurafat dan takhayul.
Tampilnya jam’iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan “reformasi” Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indinesia untuk melakukan pembaharuan Islam.

B.     Tujuan Ormas Persatuan Islam (Persis)
Terdapat dua pokok tujuan dibentuknya persis, yaitu pertama untuk mempersatukan umat islam yang pada saat itu masih terpecah belah, yang kedua untuk memberantas TBC, TBC disini adalah takhayul, bid’ah dan kurafat. Pada saat itu masyarakat Indonesia masih percaya kepada takhayul yang biasa orang zaman dulu menyebutnya “pamali”, contohnya seseorang tidak boleh duduk di “lawang pintu” karena bisa menyebabkan orang itu jauh dari jodohnya, dan sampai sekarang hal tersebut masih terjadi. Hal-hal seperti itulah yang ingin diberantas oleh ormas persis ini.
Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mencapai tujuan jam’iyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936. dari pesantren Persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (Taman kanak-kanak) hingga perguruan tinggi. Kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitab, dan majalah antara lain majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah berbahasa Sunda (Iber), serta berbagai majalah yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pimpinan Pusat Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan-undangan dari organisasi Islam lainnya, serta masyarakat luas.
C.     Tokoh-tokoh Persis
a.        Ahmad Hassan
Keberadaan sebuah organisasi sejak awal berdirinya hingga sekarang tidak terlepas dari peran serta para tokohnya. Demikian pula halnya dengan Persis. Organisasi yang pertama kali dibentuk oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus ini telah melahirkan sejumlah tokoh besar. Mereka menjadi tumpuan umat dalam memahami masalah agama. Selain Ahmad Hassan (A. Hassan), salah seorang tokoh dan menjadi guru utama Persis, organisasi Islam ini juga melahirkan tokoh lainnya, Mohammad Isa Anshary, KHE Abdurrahman, dan KH Abdul Latief Muchtar. Bagaimana sosok dan kiprah mereka?
b.   Mohammad Natsir
Dilahirkan di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatra Barat, pada 17 Juli 1908. Ia adalah putra pasangan Sutan Saripado-seorang pegawai pemerintah-dan Khadijah. Ia pergi ke Bandung pada 1927 untuk melanjutkan studinya di AMS A-2 (setingkat SMA sekarang).Di Kota Kembang ini, minat Natsir terhadap agama semakin berkembang. Karena itu, selama di Bandung, Nastir berusaha memperdalam ilmu agamanya dengan mengikuti pengajian-pengajian Persis yang disampaikan Ahmad Hassan. Selain itu, Natsir juga mengikuti pelajaran agama di kelas yang khusus yang diadakan oleh Ahmad Hassan untuk anggota muda Persis yang sedang belajar di sekolah milik Pemerintah Belanda.
Bahkan, dengan inisiatif Natsir, Persis kemudian mendirikan berbagai lembaga pendidikan, antara lain Pendidikan Islam ( Pendis ) dan Natsir sebagai direkturnya ( 1932-1942 ) serta Pesantren Persatuan Islam pada 4 Maret 1936. Keberadaan sekolah-sekolah ini ditujukan untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan memperdalam dan mampu mendakwahkan, mengajarkan, dan membela ajaran Islam. Natsir adalah orang yang terlibat langsung dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan Ahmad Hassan.
Dengan demikian, Natsir mempunyai hubungan yang dekat dengan Persis. Di bawah kepemimpinannya, Persis menjelma menjadi organisasi yang bukan hanya berupa kelompok diskusi atau pengajian tadarusan kelas pinggiran, melainkan sebuah organisasi Islam modern yang potensial. Dalam waktu singkat, ia berhasil menempatkan Persis dalam barisan organisasi Islam modern.

         c.       Mohammad Isa Anshary
    Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan periode kedua Persis sesudah kepemimpinan KH Zamzam, KH Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad Natsir yang mendengungkan slogan “Kembali kepada Alquran dan As-Sunnah”. Pada periode kedua ini, salah seorang tokoh Persis yang pernah memimpin adalah KH Mohammad Isa Anshary. KH Mohammad Isa Anshary lahir di Maninjau Sumatra Tengah pada 1 Juli 1916. Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam di tempat kelahirannya, ia merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah Persis hingga menjadi ketua umum Persis.
Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940 ketika ia menjadi anggota hoofbestuur ( Pusat Pimpinan ) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi ketua umum Pusat Pimpinan Persis.
Selain sebagai mubaligh, Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis ( 1953 ) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis ( 1967). Dalam sikap jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis.
Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis. Melalui tulisannya, Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Semangat ini terus ia gelorakan hingga wafatnya pada 2 Syawal 1389 H yang bertepatan dengan 11 Desember 1969.

       d.      KHE Abdurrahman

KH Endang Abdurrahman tampil sebagai sosok ulama rendah hati, berwibawa, dan berwawasan luas. Dengan gaya kepemimpinan yang luwes, ia telah membawa Persis pada garis perjuangan yang berbeda: tampil low profile dengan pendekatan persuasif edukatif, tanpa kesan keras, tetapi teguh dalam prinsip berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Abdurrahman dilahirkan di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur, pada Rabu, 12 Juni 1912. Ia merupakan putra tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang perajin batik.
KH Aburrahman dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli hukum yang tawadhu. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian. Sosok ulama Persis yang satu ini, sebagaimana ditulis Fauzi Nur Wahid dalam bukunya KHE Abdurrahman: Peranannya dalam Organisasi Persatuan Islam, semula memiliki pemahaman keagamaan yang bersifat tradisional. Namun, pada kemudian hari, ia beralih menjadi ulama yang berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah serta menentang berbagai ibadah, khurafat, dan takhayul.
Pada masa kepemimpinannya, banyak persoalan mendasar yang dihadapi Persis. Di antaranya, bagaimana mempertahankan eksistensi Persis di tengah gejolak sosial politik yang tidak menentu. Jihad perjuangan Persis dihadapkan pada masalah-masalah politik yang beragam. Selain itu, Persis juga berhadapan dengan aliran-aliran yang dianggap menyesatkan umat Islam. Untuk menghadapi aliran tersebut, ia memerintahkan para mubaligh Persis dan organisasi yang ada di bawah Persis untuk terjun ke daerah-daerah secara rutin dalam membimbing umat.

      e.       KH Abdul Latief Muchtar
 
Dilahirkan di Garut pada 7 Januari 1931 dari pasangan H Muchtar dan Hj Memeh. Sejak kecil, KH Abdul Latief Muchtar sudah bersentuhan dengan Persis hingga akhirnya menjadi ketua umum Persis, menggantikan KHE Abdurrahman yang wafat. Jika Persis kini tampak low profile, itu semua tidak lepas dari kepemimpinan KH Abdul Latief. Pada masa kepemimpinannya, Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis.Pada masa awal jabatannya sebagai ketua umum Persis, KH Abdul Latief dihadapkan pada keguncangan jamaah Persis karena adanya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang menuntut semua organisasi kemasyarakatan ( ormas ) di Indonesia mencantumkan asas tunggal Pancasila sebagai asas dalam anggaran dasar organisasinya.
Persoalan asas tunggal ini dihadapi dengan visi dan pemikiran KH Latief yang akomodatif. Ia mencoba menjembatani persoalan ini dengan baik.Dalam bidang jam’iyyah ( organisasi ), KH Latief bertekad menjadikan organisasi Persis makin terbuka ( inklusif ). Persis harus mampu diterima semua kalangan, tanpa ada kelompok yang merasa takut dengan keberadaannya.

D.    Karakteristik Ormas Persatuan Islam (Persis)
Di masyarakat persis dianggap sebagai ormas yang keras dan tegas, karena ormas ini sangat berpegang teguh pada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.
Di dalam ormas Persis ini terdapat 3 bidang pokok antara lain yaitu :
1.   Bidang Jam’iyah, dimana bidang garapannya adalah SDM dan organisasi
2.   Bidang Maliyah, bidang ini berkaitan dengan keuangan. Bidang garapannya yaitu perzakatan, bendahara keuangan, wakaf, dsb.
3.   Bidang Tarbiyah, dimana bidang garapannya yaitu pendidikan, sosial, ekonomi, dakwah, haji dan umrah.
Selain itu, menurut narasumber ormas Persis tidak hanya terdapat di Indonesia namun juga ada di Malaysia dan Singapura. Hanya saja, Indonesia merupakan pimpinan pusatnya. Ormas Persis juga memiliki otonom yaitu Persis Istri (untuk ibu-ibu), Pemuda Persatuan Islam, Pemudi Persatuan Islam.

E.     Pandangan Persis mengenai Penentuan awal dan akhir bulan ramadhan
     Saat ini , penentuan awal ramadhan dan hari raya idul fitri tidak lagi dikatakan mudah dan sulit diterapkan dimasyarakat karena terbentur perbedaan mahzab hukum dan kepercayaan kepada pemimpin umat yang tidak tunggal untuk mewujudkan kesatuan pelaksanaan awal bulan ramadhan dan hari raya diseluruh dunia perlu adanya izma’ ( konsensus ) ulama. Penentuan awal dan akhir bulan ramadhan terdiri dari dua cara yaitu hijab dan rukyat. Hijab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriyah. Dan rukyat sendiri adalah aktivitas mengamati visibilitas hilai, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjugasi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop . rukyat dilakukan setelah matahari terbenam , hilal hanya nampak saat matahari terbenam(magrib).
Penentuan awal dan akhir bulan ramadhan dan hari raya idul fitri Pada organisasi masyarakat persatuan islam (persis) ditentukan dengan cara hijab yaitu dengan cara perhitungan datangnya bulan dan juga ditegaskan dengan rukhyah . Menurut persatuan islam dengan cara ini , penentuan awal dan akhir ramadhan selalu tepat , walaupun akhirnya berbeda itu sudah menjadi konsekuensi . persatuan islam ini melihat hilai 4° pun sudah bisa terlihat dan sudah ditentukan (hisab).

F.      Perbedaan Persis dengan Ormas Lain
Kita lihat dari visi dan misiya, visi persis adalah senantiasa menegakkan kalimah Allah dan misinya adalah pertama, mempersatukan umat islam supaya kembali ke Al Quran dan As Sunah, yang kedua memberantas takhayul, bid’ah, dan kurafat. Persis itu berupaya mendakwahkan dan menyampaikan syariat yang sesuai Al Quran dan As sunah. Kemudian jika dibedakan dengan organisasi islam di Indonesia seperti Muhammadiyah dan Nu adalah dakwah persis lebih bertujuan kepada pemberantasan takhayul, bid’ah, dan kurafat hal ini berbeda dengan Nu disana mereka berdakwah secara umum selama hal itu dianggap baik maka hal itu sah sah saja. Kemudian berbeda dengan Muhammadiyah, muhammadiyah dalam berdakwah lebih dalam bentuk persoalan Sosial sehingga Muhammadiyah lebih mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dll. Sehingga dapat dikatakan persis melakukan dakwahnya secara langsung, dakwah bil lisan, bil ilham atau dengan perbuatan atau secara umum melakukan dakwah dalam bentuk yang konkrit.  Salah satu contoh ketika ada yang meninggal dunia, anggota persis akan langsung menjenguk tanpa kata ditunda, mereka akan cepat berkumpul ketika di panggil walaupun bukan merupakan sebuah tim karena hal tersebut merupakan suatu kewajiban sehingga jika ada yang meninggal dunia jenajah harus segera di urus, seperti memandikan jenajah, mengkafani, dsb.
Namun di masyarakat persis sering disebut sebagai ormas yang keras, mungkin hal itu terjadi karena kebanyakan kebiasaan (kebudayaan) orang islam di indonesia itu dilarang dalam persis karena tidak sesuai dengan Al Quran dan As Sunah, seperti perayaan Maulid nabi SAW. Jika kita telaah lebih dalam, tidak ada dalil Al Quran yang memerintahkan untuk merayakan hari kelahiran nabi tetapi oleh masyarakat Indonesia hal tersebut dilakukan karena sudah menjadi kebudayaan namun hal tersebut ditentang oleh persis. Selain itu banyak dampak yang kurang baik setelah dilakukan perayaan maulid nabi salah satunya orang-orang yang melaksanakan solat subuh berjamaah di masjid menjadi sedikit  karena kebanyakan dari mereka telat bangun atau merasa kelelahan setelah semalaman merayakan maulid nabi. Jadi apa makna maulid yang kita ambil, sedangkan Rasulnya sendiri telat wafat. Sebagian dari mereka beralasan bahwa pelaksanaan maulid merupakan salah satu bentuk cinta kepada Rasul, namun jika kita lihat sahabat rosul lebih mencintai rasul daripada kita, akan tetapi mereka tidak pernah merayakan hari kelahiran rasul. Itulah salah satu contoh perbedaan persis dengan organisasi islam lain.

G.    Madzhab yang dipegang Persis
Persis tidak memegang salah satu madzhab, apa yang dibawa oleh setiap madzhab dan berdasar pada Al Quran dan As Sunah maka itulah madzhabnya. Jadi tetap madzabnya adalah Rasulullah. Persis lebih memegang teguh Al Quran dan As Sunah, sehingga tidak memegang madzab syafi’I, hambali, hanafi, dsb. Selama hal itu ada dalam Al Quran dan As sunah maka madzhab apapun itulah yang digunakan. Karena perlu diketahui bahwa sering kali orang yang memegang madzhab itu tidak konsekuen dengan madzhabnya. Contohnya dalam madzhab syafi’I ketika laki-laki dan perempuan bersentuhan maka wudhunya batal, namun ketika dalam melaksanakan tawaf ketika pelaksaan umroh atau haji menjadi tidak batal, karena orang itu berganti madzhab. Jadi ketika kita memegang satu madzab seharusnya berpengang teguh pada madzhab tersebut. Sehingga persis memilih madzhabnya Muhammad, artinya apa yang dicontohkan oleh Rasulullah itulah yang menjadi madzhab, sehingga apa saja yang keluar dari siapaun baik itu imam syafi’I, hambali, Hanafi pendapat beliau dapat diikuti selama dasarnya jelas terdapat dalam Al Quran dan As Sunah. Dalam firman Allah disebutkan bahwa apa yang dilakukan rasul maka kerjakan dan apa yang dilarangnya maka tinggalkan karena itu sesuatu yang haram. Jadi persis itu tidak menganut salah satu madzhab tetapi berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunah. Hal ini sesuai dengan firman Allah :



 








Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (.Qs.3:103)

Dan Rasulullah SAW, bersabda: